pardon me any word i can write this blog, because too humiliate for everyone read this blog
Tentunya tidak semua orang malaysia benci kepada orang indonesia. Namun sudah menjadi rahasia umum bahwa orang Indonesia di sana, khususnya TKI dipandang rendah. TKI/TKW dinamakan dengan orang “indon”, yang istilah indon ini menurut kabar yang beredar berkonotasi rendah, mungkin dapat disamakan dengan istilah “negro” di jaman perbudakan amerika dahulu kala.
Dugaan saya, mereka memandang rendah orang Indonesia karena negara Indonesia miskin melarat dan korup, yang memaksa sebagian tenaga kerjanya mengais-ngais ringgit di tanah melayu, sarawak dan sabah. Jadi dipandang remeh dan hina.
Dalam keseharian nampaknya fenomena diatas tidak jauh beda, terutama perilaku Polis Diraja Malaysia dan pasukan RELAWAN (RELA) Malaysia. Laporan dari Gatra edisi edisi bulan lalu 12 September 2007 “Laku Lancung Negeri Serumpun” pada tulisan berjudul “Luka Akibat Razia Polisi Diraja” halaman 22 menyebutkan sbb:
* Maklum belakangan razia terhadap Warga Negara Indonesia (WNI) menjadi pemandangan rutin di negeri jiran tersebut
* Hampir saban akhir pekan, polisi malaysia melakukan razia
* Para TKI atau pelajar menjadi sasaran, khilaf membawa paspor dipastikan masuk bui berhari-hari
* Majikan Malaysia yang memegang paspor TKI/TKW kadang malas mengurus tki yang tertangkap
* Polisi malaysia sering bersikap pongah
* Untuk memudahkan razia, misalnya, para anggota polisi malaysia yang dibantu RELA — organisasi relawan yang bertugas menangkap TKI — kerap merazia bus dengan berteriak lantang menyebut WNI dengan sebutan “indon”. “indon… indon… turun!”
* Jika ada razia, TKI dikumpulkan dan disuruh berjongkok di tepi jalan.
* Berani berdiri di depan tuan-tuan polisi itu, tendangan dan pukulan langsung menyambar.
* Di mata polisi malaysia, mereka seperti budak-budak yang tak punya hak hukum.
* TKI/TKW sembari dipelototi, dicemooh, dibentak, dan dijadikan tontonan orang yang lalu lalang.
* Banyak TKI yang rela gaji dipotong untuk bayar polisi malaysia ini.
* Buat yang masuk bui, perlakuan tak manusiawi, penghinaan, dan penyiksaan sering terjadi di ruang-ruang tahanan polisi.
* Dipukul, dimaki dengan kata-kata kotor dan dipalak, dirampas uang dalam dompet adalah hal biasa buat TKI.
Puncaknya adalah ketika polisi malaysia ini bertemu dengan Donald Pieter Luther Kolopita, mereka pikir donald yang wasit karate ini paling juga indon yang cuma TKI yang bakal ketakutan dan bisa diperas. kalau tidak salah donald bebek ini sempat melawan hingga empat polisi kewalahan. namun setelah polisi ini memberitahu donald bahwa mereka polisi, donald berhenti melawan. namun kantor polisi, kembali donald yang tidak berdaya digebukin rame-rame satu lawan empat! akibatnya Donald mengalami luka memar, lebam seluruh badan, gegar otak ringan, perdarahan di kemaluan dan kedua bola mata.
Baca berita Antara: Donald: Saya Dipukul Polisi Malaysia Meski Tangan Diborgol
Perdana Menterinya Abdullah Ahmad Badawi kabarnya minta maaf kepada presiden SBY dengan cara tidak resmi melalui telepon. Namun Pak Amien Rais menilai cara Badawi minta maaf menyimpan kecongkakan. Jauh dari harapan. Seharusnya disampaikan secara tertulis dan dinyatakan terbuka dalam konferensi pers. Amien membuat ilustrasi setengah ledekan. “Dia kan cuma malam-malam ambil telepon kemudian bisik-bisik:’Ya Pak SBY, kita minta maaf deh’.Tahu enggak komentar SBY mengenai kasus ini “ya kita tidak bisa memaksa malaysia minta maaf secara resmi.
Well, Bang Mandor baru saja menemukan berita mengenaskan. Belum lama ini seorang pembantu indonesia diperkosa 12 orang malaysia (termasuk 1 orang polisi (ada yang bilang anggota RELA) dan 1 orang pelajar). orang malaysia ini menyamar sebagai polisi Diraja yang menangkap pembantu berusia 22 tahun ini. Kabarnya sudah biasa malaysia ini menyamar sebagai polisi buat menangkapi dan memeras para TKI/TKW di sana.
Parlemen Malaysia Bahas Kata "Indon"
Kuala Lumpur (ANTARA News) - Panggilan "Indon" bagi WNI di Malaysia mencuat di Parlemen Malaysia, Selasa malam (23/10), ketika sedang membahas anggaran kegiatan parlemen negara jiran ini.
Anggota parlemen Sri Aman, Jimmy Donald, mencuatkan isu ini karena Indonesia merasa terhina dan dipermalukan dengan panggilan Indon, padahal panggilan itu tidak ada maksud dan prasangka apa pun.
"Rakyat Malaysia tidak berniat merendahkan martabat dengan panggilan seperti itu," katanya sebagai dikutip Berita Harian, Rabu.
"Rakyat Malaysia tidak prejudis (berprasangka, buruk red) terhadap warga Indonesia," kata Jimmy.
"Saya diinformasikan bahwa rakyat Indonesia, termasuk pemimpin dan menterinya sangat sensitif dan tidak suka dipanggil Indon," tambah dia.
"Ada tidak usulan anggaran untuk memberi pengertian supaya mereka (Indonesia) menyadari kita bukan prejudis dan merendah-rendahkan mereka?" katanya.
Dr Rahman Ismail, anggota parlemen dari Barisan Nasional untuk wilayah Gombak, mengatakan perlu adanya anggaran untuk menjelaskan hal itu kepada rakyat Indonesia terkait panggilan Indon.
Dr Rahman turut mendesak Kerajaan Malaysia untuk segera bertindak membendung prejudis rakyat Indonesia terhadap Malaysia yang dianggap sebagai sombong.
Tuduh media RI
Rahman menuduh media massa di Indonesia sering melakukan provokasi terhadap rakyatnya dan menuduh Malaysia tidak akan maju atau tidak bisa memiliki lapangan terbang KLIA, Sepang, jika tidak ada pekerja Indonesia.
"Malaysia sering dikecam dan diputarbelitkan media di Indonesia dengan isu remeh dan kecil. Jika perkembangan ini tidak dipantau, ini akan mewujudkan kebencian di kalangan rakyat Indonesia," katanya. Bagaimanapun, hubungan kedua negara berjiran itu masih baik.
Sehubungan itu, Dr Rahman mengusulkan supaya Parlemen Malaysia turut berusaha memperkukuhkan hubungan dua negara ini dengan lebih sering mengadakan pertemuan dengan anggota parlemen Indonesia.
Indon adalah sebutan untuk Indonesia, sama seperti Brit kepada Britania Raya. Perkataan ini digunakan secara luas di Malaysia dan Singapura
Pada tahun 2006, pemerintah dan rakyat Indonesia menentang penggunaan kata "Indon" yang dianggap menghina.
Sehubung dengan itu, pihak Pemerintah Indonesia melalui Sekretaris I Penerangan & Humas KBRI Eka A. Suripto menjelaskan bahwa pihak Duta Indonesia sudah menyampaikan protes secara resmi kepada duta Malaysia di Indonesia pada 13 Mei 2007. Pemerintah Malaysia kemudian mengambil tindakan dengan mengeluarkan larangan penggunaan istilah ini secara resmi oleh Kementerian Penerangan Malaysia, pada 24 Mei 2007.
i want to gratitude to http://bangsabodoh.wordpress.com/2007/10/05/kenapa-orang-orang-malingsia-malyasia-membenci-orang-indon-indonesia/, http://www.antara.co.id/arc/2007/10/24/parlemen-malaysia-bahas-kata-indon/, http://id.wikipedia.org/wiki/Indon.
i want apology for all my friends in malaysia if my writing overhard to reading
Rabu, April 15, 2009
Selasa, April 14, 2009
JAS MERAH (“Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”)

Sebuah draf bisa ditulis: Indonesia lahir dari “ide persatuan dan kesatuan”, bangsa yang sudah menjajaki 3 orde, UUD 45 diamandemen sampai 4 kali, gerakan separatis yang mengusik, kesejahteraan rakyat yang masih timpang, atau peliknya bangsa kita menentukan pijakan demokrasi dan segudang masalah yang sembunyi di ketiak sejarah...
Terkadang manusia khilaf dan alpa bahwa sejarah juga bisa menjadi kepribadian yang penuh suri tauladan. Belum lama ini, Pejabat Kejaksaan Negri Bogor, Cibadak, Makassar, Subang dan Depok membakar puluhan ribu eksemplar buku bersejarah. Alasannya buku yang mengacu pada kurikulum tahun 2004 itu tak mencantumkan kata “PKI” pada gerakan G-30-S. Para jaksa itu lupa, seperti ditulis di Opini Tempo, bahwa hukum tidak bisa melarang perbedaan pendapat dalam proses mencari kebenaran sejarah. Hak kebebasan berpendapat—yang dijamin UUD 45 dalam pasal 28—tidak dihargai. Mereka lupa bahwa mereka telah melakukan tindakan yang sama kejinya dengan sosok yang mereka bakar. Di zaman Orla, PKI memberangus buku-buku yang tak seirama dengan ideologinya.
Perbedaan (Bhineka)—sebagai akar rumpun Indonesia—memang niscaya. Tapi ketika berbenturan, apakah langsung dibakar, ditebas dan dipenggal? Untuk momen ini, lebih arif jika kita menginsyafi diri: ada warna merah darah—yang menjadi korban tanpa pernah tahu apa kesalahannya—dalam kanvas sejarah pembangunan Indonesia.
Di mata saya, Bung Karno berteriak di sebuah pagi tahun 1965 itu ingin agar Bangsa Indonesia meresapi makna Nasionalisme. Nasionalisme jadi penting ketika diinjak oleh separatisme sepihak sebagaimana HAM harus disuarakan ketika ia dilanggar. Pada akhirnya kita patut bangga sebagai pewaris bangsa atas nama rakyat yang belajar mengecap arti kemerdekaan bukan suku, ras maupun agama. “Hendaknya kita insyaf bahwa tiap masa mempunyai corak perjuangan sendiri-sendiri,” nasehat Bung Karno suatu kali.
Dan itu yang relevan sekarang. Namun jika merasa keberatan beban, saya sarankan untuk mengeja Nasionalisme lewat Film Denias atau Naga Bonar Jadi 2. Gampang dan enak bukan?
.....Telah kami tinggalkan bumi pertiwi ini dengan darah, keringat dan cucuran air mata kami, disinilah kami dilahirkan, disinilah kami di besarkan. dimana kami tidak bisa merasakan nikmatnya beras hasil panen kami....Jangan Lupakan Kami....yang begitu amat sangat mencintai negeri ini, ...Jangan lupakan kami....yang begitu amat sangat memperjuangkan negeri ini,...Jangan bunuh kami...dengan merusak negeri ini dengan kebohongan dan kepalsuan...........karena kutitipkan negeri ini dengan darah, cinta, dan cita - cita kami. dimana ditanam tubuh kami di negeri ini.....tolong jangan lupakan kami,....jangan bunuh kami......

post link http://demis19.blogspot.com/2007/08/jas-merah.html
GUNS N' ROSES

Similar artists Velvet Revolver, Slash's Snakepit, Izzy Stradlin, Skid Row, Mötley Crüe
Langganan:
Postingan (Atom)