Rabu, Oktober 07, 2009
Mahasiswa Demo Tolak Ical
Mahasiswa yang menamakan diri tim Solidaritas Korban Lumpur Lapindo ini juga menggelar aksi teatrikal, dengan mengembangkan sebuah tikar yang dipenuhi lumpur dan dua mahasiswa dalam kondisi bisu bergulingan di atasnya.
Menurut Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, M. Saleh, mereka terketuk hatinya dengan situasi politik yang memanas di Pekanbaru oleh Munas Golkar. Mereka tak ingin masyarakat terkecoh oleh manuver dan aksi simpatik para calon ketua umum, padahal masing-masingnya mempunyai track record yang tidak betul.
Ketika ditanya kenapa hanya soal Lapindo yang disuarakan, M. Saleh menyatakan, Lapindo bukan bencana alam, tetapi memang terjadi karena kelalaian pihak perusahaan. Sementara korban Lapindo sampai hari ini hanya diberi bantuan seadanya. "Ini aksi murni dari kami. Kami juga tidak membela salah satu calon," kata M. Saleh.
Menurut Saleh, memang mereka ingin menjegal orang yang paling bertanggung jawab atas penderitaan para korban Lumpur Lapindo dalam Munas Golkar, karena mereka meyakini Ketua Umum Golkar adalah juga calon pemimpin bangsa. "Maka maka kami tidak ingin orang yang telah menyebabkan penderitaan ribuan masyarakat Sidoarjo nantinya memimpin bangsa ini," kata M.Saleh.
Menurut Saleh, sebenarnya tidak hanya Ical yang bermasalah, namun calon ketua umum Golkar lainnya juga bermasalah. Seperti Surya Paloh dan Tommy Soeharto.
Sementara itu juru bicara kubu Ical, Idrus Marham yang dikonfirmasi via telpon tidak mempermasalahkan demo tersebut. Ia menilai mahasiswa tidak memahami masalah Lapindo. "Kalau mahasiswa paham, mereka akan berbalik membela Bang Ical dalam masalah Lapindo," ujarnya.
Dijelaskan Idrus, dalam kasus Lumpur Lapindo, secara hukum tidak ada masalah. Kasus itu dinyatakan sebagai fenomena alam, bukan kesalahan teknis PT. Minarak Lapindo, selaku perusahaan kontrak pengelola gas di Porong, Sidoarjo.
Senin, Agustus 17, 2009
Kemerdekaan, Asap dan Flu Babi
Katanya kita sudah merdeka, tapi kok masih menderita. Katanya kita sudah bebas dari segala penindasan, tapi masih banyak yang menderita.
Contoh terbesar di provinsiku masih ada permasalahan yang belum tuntas sejak tahun 1998 yaitu kabut asap yang sudah menyebrang ke negara tetangga. Malu.. ntah lah masih bisa kah kita malu untuk itu. mau marah pada siapa kita harus marah pemerintah, rakyat yang membakar, atau siapa pun yang bisa kita marahi.
Disebut pemerintah kurang tanggap, sudah banyak yang dilakukan oleh pemerintah seperti memenjarakan orang-orang yang membakar lahan. Tapi itu belum membuat jera, tiap tahun ada aja kabut datang.
Rakyat yang membakar lahan, tentu mereka punya hak atas lahan mereka miliki. kita kan bukan negara komunis atau sosialis yang semua harta benda milik negara. Meraka ingin menanam pada tahan mereka, hanya cara yang diambil salah.
Layaknya naik kapal kita melobangi ruangan tempat kita sewa, malah orang lain yang tenggelam akibat perbuatan kita. hmm itulah manusia yang masih mengatakan bahwa setiap bencana ini datang dari yang maha kuasa. tidak merasa mereka lah yang mencelakan diri sendiri.
Masalah bertambah setelah flu burung teratasi dengan datangnya flu yang lain yakni: flu babi. Pemerintah cepat tanggap masalah ini sejak negara tetangga Malaysia sudah 11 orang yang terinfeksi. Mudah-mudahan masalah ini teratasi. amin ya robbal alamin.
Kamis, Juli 09, 2009
Inikah yang terjadi di negaraku saat ini
Salemba, Warta Kota
PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong
mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah. Penumpang kereta
rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger Minggu (5/6).
Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn)
tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan
memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa
KRL.
Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas
dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban
kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas
karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa
Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.
Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari
terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke
Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke
puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas,
meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan
botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari,” ujar
bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di
Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan
sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan
kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai
hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa
menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam
gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada
siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski
termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain
kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai
harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak.
Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat
itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat
menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap
di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus
jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan
terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang
Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono
menggendong Khaerunisa menuju stasiun.
Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang
menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh
Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor
spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung
berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi
menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang
ambulans hitam.
Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat
permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang
terbujur kaku.
Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya
telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh
adiknya.
Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut,
lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono
harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung
sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan
uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di
RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan
Muriski di perjalanan.
Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku
benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut
karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi
perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang
seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa.
Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan
tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa
Indonesia,” ujarnya.
Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa
itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan
kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini,
pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin
kata Wardah.
Jumat, Mei 01, 2009
Jangan Lagi Panggil Kami "Indon"
Kulo kepingin wangsul mawon (saya ingin pulang saja)," kata Puniah yang berasal dari Desa Tlogomulyo Bantengan Pilang, Kecamatan Gubug, Grobogan, Jawa Tengah. Ibu muda berusia 27 tahun itu terpaksa meninggalkan keluarganya di Jawa Tengah karena terimpit kemiskinan, ketiadaan pekerjaan di desa, dan kebutuhan membiayai anaknya yang berusia 10 tahun.
Kalau di desanya ada pekerjaan—apa pun juga—tidak mungkin lulusan sekolah dasar ini pergi ke Malaysia untuk menjadi pembantu. "Kulo niku anake wong ora nduwe. Semah kulo namung buruh bangunan, galak, malah padu terus. nDilalah anak kulo lelaranen. Kulo mriki pados arto, kangge nguripi kalih ngobati anak kulo (Saya ini anak orang miskin. Suami saya buruh bangunan, galak, dan sering berantem. Anak saya pun sakit-sakitan. Saya ke sini mencari uang untuk menghidupi dan mengobati anak saya)," lanjut Puniah memelas.
Puniah terpaksa melarikan diri karena tidak tahan ikut majikannya. Selain sudah satu tahun bekerja tidak dibayar, anak majikannya suka menggerayanginya pada waktu malam. "Majikan saya genit," lanjut Puniah.
Lain lagi yang dialami Rani Nasution (20). Ibu muda asal Medan ini juga tidak digaji oleh majikannya yang orang Melayu meski sudah bekerja lebih dari dua tahun. Karena tidak tahan, Rani pun terpaksa melarikan diri ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).
"Sudah menelepon keluarga dan suami?" tanya Kompas.
"Sudah. Tetapi kata ayah hanya ’E… masih hidup kau’. Suami saya entah di mana," lanjut Rani.
Bayi-bayi
Situasi di shelter itu tidak beda dengan tempat-tempat penampungan tenaga kerja Indonesia (TKI) lainnya. Mereka tidak boleh keluar shelter karena tidak memiliki identitas apa-apa. Ruang geraknya terbatas pada sebagian kecil kawasan KBRI. Meski demikian, mereka memiliki rutinitas hidup. Di antara 80-an TKI itu, mereka ditampung beberapa ruang besar yang dilengkapi tempat tidur tingkat. Itu pun tidak cukup sehingga ada yang sebagian yang harus tidur di lantai menggunakan tikar. Lalu bayi-bayi siapa itu?
"Yang digendong Lies itu Farid, anak mbak S yang diperkosa majikannya. Ia tidak mau membawa anak itu pulang ke Indonesia karena mbak S masih punya suami dan keluarga," tutur Siti Fatimah, TKI bermasalah asal Medan yang diserahi tugas untuk mencatat berbagai persoalan yang menjadi keluhan TKI lainnya.
"Lalu yang lain itu anak siapa?" tanya Kompas lagi.
"Itu anak si D dari NTT. Ia justru diperkosa oleh orang Madura yang katanya mau menyelamatkan dirinya. Yang itu, anak si R yang diperkosa oleh Rela (semacam hansip)," lanjut Siti.
Hal tersebut menjadi persoalan karena akan dikemanakan bayi-bayi merana itu kalau sang ibu tidak ingin membawanya serta. "Itulah repotnya. Kami harus mengurusinya. Kasihan anak-anak ini, tidak bisa mengikuti ibunya. Atau barangkali ada yang mau mengadopsi? Dan mereka ini, kalau urusannya selesai, segera diberi surat perjalanan laksana paspor (SPLP), langsung pulang," jelas Tatang B Razak, Ketua Satuan Tugas Pelayanan dan Perlindungan Warga Negara Indonesia pada KBRI Kuala Lumpur.
Harga diri
Mereka yang menghuni shelter itu tidak hanya para TKI yang tidak dibayar atau diperkosa, tetapi juga yang dianiaya oleh majikannya. Di shelter itu masih ada Nirmala Bonat dari Kupang, Suryani (Lombok), Ceriyati (Brebes), atau yang lain yang terpaksa melarikan diri ke KBRI karena tidak tahan disiksa majikannya. Hingga awal September lalu, mereka masih menunggu penyelesaian kasusnya yang dilimpahkan ke pengadilan Malaysia.
Selama ini, nasib para TKI yang dianiaya ini yang sering didengar dan membuat hati kita geram. Tidak hanya itu. Saking seringnya kejadian penyiksaan, membuat sebagian dari kita sadar, betapa penyiksaan itu juga melukai harga diri bangsa. Seolah anak-anak bangsa yang karena diimpit kemiskinan dan terpaksa mencari nafkah di negeri orang harus menerima perlakuan tidak wajar sebagai manusia.
"Dari berbagai kesengsaraan yang dialami para TKI itu, ada semacam cap yang menempel pada tiga etnis besar di Malaysia. Kalau TKI dipukul atau dianiaya, majikannya umumnya dari etnis China. Kalau diperkosa, majikannya dari etnis India. Sedangkan kalau majikannya dari etnis Melayu, biasanya tidak mau membayar gaji," ujar Khairuddin Harahap, warga Indonesia yang sudah 25 tahun tinggal di Kuala Lumpur dan mendirikan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Jasindo Advokasi dan Perlindungan Devisi Malaysia.
Dalam pengamatan Khairuddin, sebagian besar TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga tidak dibekali keterampilan sama sekali saat dikirim dari Indonesia. Mereka direkrut dari kampung-kampung dan desa-desa langsung dikirim ke Kuala Lumpur, Johor, atau kota besar lain di Malaysia. Tergiur iming-iming gaji tinggi, para remaja yang tidak memiliki pendidikan mencukupi, tidak memiliki pekerjaan, dan karena terimpit kemiskinan seperti terbius mengikuti tawaran calo.
"Padahal, begitu mengiyakan dan melangkah keluar dari pintu rumah, si TKI itu berarti sudah menggadaikan hidupnya. Seluruh biaya dari rumah hingga sampai ke majikan harus dia tebus sendiri. Dan untuk mengambil TKI sebagai pembantu rumah tangga, para majikan harus membayar kepada agen sebesar 5.000 ringgit sampai 6.000 ringgit (sekitar Rp 13,5 juta-Rp 16 juta). Dengan biaya sebesar itu, ternyata TKI bersangkutan tidak bisa bekerja apa-apa. Maka, bisa dimengerti kalau para majikan pun geram," jelas Khairuddin.
Meski demikian, tidak sedikit kisah sukses yang bisa diraih oleh para TKI yang bekerja di Malaysia. Maka, tidak mengherankan bila Malaysia masih menjadi salah satu tujuan utama TKI untuk mengadu nasib. Sebaliknya, Malaysia sendiri memerlukan banyak tenaga kerja dari Indonesia untuk mengerjakan bidang konstruksi, pekerja kasar, pembantu rumah tangga, atau bekerja di kebun-kebun kelapa sawit, dan sebagainya. Dengan gaji sekitar 40-50 ringgit per hari, para TKI dalam kenyataannya bisa hidup cukup. Untuk hidup sehari-hari, paling hanya diperlukan 15 ringgit. Sisanya bisa ditabung dan dikirim kepada keluarganya di Indonesia.
"Karena itu, jangan heran kalau jumlah orang Indonesia di Malaysia sekitar dua juta. Sebagian besar memiliki izin kerja, atau memiliki izin sebagai penduduk tetap, ada pula yang ilegal, serta sekitar 20.000 pelajar dan mahasiswa Indonesia. Padahal, total jumlah penduduk Malaysia sekitar 26 juta, terdiri dari 64 persen Melayu, 26 persen China, delapan persen India, dan dua persen lain-lain," lanjut Khairuddin.
Begitu banyaknya orang Indonesia di Malaysia, mendorong mereka untuk membuat paguyuban, seperti Permai (Perhimpunan Masyarakat Indonesia) yang saat ini dipimpin Teuku Rizal Ghading yang asli Aceh. Mereka pun sering mengadakan pertemuan, silaturahmi untuk mempererat tali persaudaraan. Terakhir, pertemuan digelar pada hari Minggu (2/9) di Kuala Lumpur.
Dalam kesempatan itu, Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia AM Fachir mencoba mengingatkan para pekerja Indonesia. "Meskipun 70 persen rakyat Malaysia adalah keturunan Indonesia (dari Aceh, Padang, Palembang, Jawa, Bugis, dan sebagainya), tetapi kehadiran kita di sini adalah untuk memberi sumbangan membangun Malaysia. Meski hanya sebagai pekerja kasar, kita harus berdiri tegak. Hanya saja, di negeri orang, hendaknya kita tidak membuat onar. Jadilah tamu yang baik karena kita ingin dihormati di negeri saudara-saudara sendiri," ujar Fachir yang tanggal 5 September lalu dilantik sebagai Duta Besar Indonesia untuk Mesir.
Banyaknya orang Indonesia dan seringnya terjadi "masalah" di Malaysia—entah terkait TKI atau keamanan—juga melahirkan penilaian tersendiri terhadap "orang kita". Sebutan "Indon" menjadi sering terdengar di Malaysia. Bahkan, sebutan itu cenderung bernuansa menganggap rendah atau melecehkan. Banyak pihak, bahkan parlemen Malaysia pun, sempat membahas masalah sebutan "Indon" yang sebaiknya tidak lagi digunakan karena berkonotasi menganggap rendah. Anehnya, orang-orang Indonesia di Malaysia sendiri justru ada yang suka menyebut diri "Indon" tanpa menyadari bahwa itu mengandung unsur menganggap rendah.
"Kepada saudara-saudaraku semua, jangan lagi menyebut diri sebagai ’Indon’. Itu merendahkan. Mulai sekarang, sebut diri Indonesia. Saya orang Indonesia," ajak Fachir yang disambut tepuk tangan para pekerja Indonesia yang ada di Malaysia. (jan/ton)
sumber :http://64.203.71.11/kompas-cetak/0709/28/sorotan/3872011.htm
Senin, April 20, 2009
KEDAULTAN BANGSA PADA BAHASA YANG ADA DIMASYARAKAT
Fungsi Bahasa Dalam Masyarakat :
1. Alat untuk berkomunikasi dengan sesama manusia.
2. Alat untuk bekerja sama dengan sesama manusia.
3. Alat untuk mengidentifikasi diri.
Macam-Macam dan Jenis-Jenis Ragam / Keragaman Bahasa :
1. Ragam bahasa pada bidang tertentu seperti bahasa istilah hukum, bahasa sains, bahasa jurnalistik, dsb.
2. Ragam bahasa pada perorangan atau idiolek seperti gaya bahasa mantan presiden Soeharto, gaya bahasa benyamin s, dan lain sebagainya.
3. Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu wilayah atau dialek seperti dialek bahasa madura, dialek bahasa medan, dialek bahasa sunda, dialek bahasa bali, dialek bahasa jawa, dan lain sebagainya.
4. Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu golongan sosial seperti ragam bahasa orang akademisi beda dengan ragam bahasa orang-orang jalanan.
5. Ragam bahasa pada bentuk bahasa seperti bahasa lisan dan bahasa tulisan.
6. Ragam bahasa pada suatu situasi seperti ragam bahasa formal (baku) dan informal (tidak baku).
Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Lidah setajam pisau / silet oleh karena itu sebaiknya dalam berkata-kata sebaiknya tidak sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara / target komunikasi.
Bahasa isyarat atau gesture atau bahasa tubuh adalah salah satu cara bekomunikasi melalui gerakan-gerakan tubuh. Bahasa isyarat akan lebih digunakan permanen oleh penyandang cacat bisu tuli karena mereka memiliki bahasa sendiri.
Kedaulatan adalah suatu hak eksklusif untuk menguasai suatu wilayah pemerintahan, masyarakat, atau atas diri sendiri terdapat penganut dalam dua teori yaitu berdasarkan pemberian dari Tuhan atau Masyarakat.
Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Kata society berasal dari bahasa latin, societas, yang berarti hubungan persahabatan dengan yang lain. Societas diturunkan dari kata socius yang berarti teman, sehingga arti society berhubungan erat dengan kata sosial. Secara implisit, kata society mengandung makna bahwa setiap anggotanya mempunyai perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama.
Apa hubungan ketiganya sehingga suatu bangsa bisa bergabung dalam suatu bangsa yang berdaulat. Akhir-akhir ini banyak bahasa yang telah hilang dari permukaan bumi telah diganti dengan bahasa baru yang lebih dimengerti para kaula muda, banyak perkataan yang tidak dimengerti sehingga komunikasi menjadi tidak tersambung. padahal bahasa adalah penghubung antara satu dengan yang lainya.
Bahasa bisa membuat kita mengerti apa yang disampaikan oleh seseorang atau suatu daerah tapi bahasa bisa juga membuat kita rendah atau direndahkan, kata-kata penghinaan bisa keluar dari mulut seseorang bila sikap dan tingkah laku menyimpang dari adat yang ada pada suatu daerah tersebut. Malah penghinaan bukan karena kelakuan kita yang membuatnya tapi karena rendahnya mutu dari bahasa yang ada pada suatu daerah yang hanya untuk merendahkan daerah yang menjadi musuh atau ketidak senangaan daerah tersebut.
Bagaimana kedaulatan bisa berhubungan dengan bahasa, kedaulatan bisa juga disebut kehormatan dan kekuasaan pada suatu bangsa. Bangsa yang berdaulat bisanya bisa menghormati bangsa yang ada di sekelilingnya walaupun bangsa yang ada disekitarnya itu mempunyai kekukarang dari bangsa itu sendiri, bukan dalam islam kitatidak boleh merendahkan manusia, manusia itu sama di mata ALLAH swt mengapa harus saling merendahkan dengan menggunakan bahasa yang membuat bangsa-bangsa lain terhina.
dalam QS Albaqarah ayat 11-12
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ(11)
أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ(12)
11. dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi*". mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan."
12. Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.
*Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
di kedua ayat ini mengenai kerusakan yang dibuat oleh orang kafir menggunakan bahasa mereka untuk menghancurkan islam.
Apakah ingin membuat kerukasan dan dikelompokkan dalam orang-orang kafir, dalam menggunakan bahasa baiknya menggunakan kata-kata yang baik. Seperti pepatah yang mengatakan lidah tak bertulang yang membuat kata-kata keluar begitu saja tanpa harus memikirkan perasaan yang mendengarkan, ada pula yang mengatakan lidah lebih tajam dari sebuah pedang dan kata-kata adalah senjata.
Dengan bahasa kita bisa dikenal orang dengan bahasa juga kita bisa dihancurkan, kata-kata bisa saja berarti bila kita tahu apa yang akan disampaikan bila yang mendengarkan tidak tersinggung hatinya dan paham apa yang disampaikan
Bahasa yang ada sekarang lebih banyak menggandung penghinaan dikarenakan sifat sentimentil dari satu daerah yang melihat daerah lain mempunyai kelebihan atau sebuah kekurangan dalam segala hal, dengan menggunkan bahasa tersebut bangsa kita bisa lebih sehingga bahasa tersebut selalu digunkan dan terus dipakai sehingga menjadi fenomena gunung es.
Apalah arti sebuah penghinaan yang akan terus menggrodoti hati disetiap orang-orang yang menggunkannya. Kadang kala sebuah kata sanjungan pon harus mengikut sertakan penghinaan sehingga makna dari sanjungan tersebuat hilang dan tidak mempunyai arti lagi.
Bangsa yang berdaulat harusnya memberikan sebuah solusi pada bangsa yang masih mempunyai kekurangan bukannya penghinaan, cacian, makian bahkan membuat bangsa tersebut tidak mempunyai kelebihan yang ada di dalam bangsa tersebut.
Masyarakat yang ada dalam bangsa berdaulat harusnya bisa menjaga bahasa dan tata cara mereka melafazkannya, kata-kata yang menghasut, menghina, dan mencaci kalau tidak dikeluarkan bisa menjadi penyakit yang akan membuat hati dan pikiran gundah, risau. Begitu pula kalau kata-kata tersebut dilafazkan membuat pikiran dan hati risau "apa yang harus dilakukan untuk membuat mereka hancur pada esok hari".
Dalam Qs Ali Imron:29
قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
29. Katakanlah: "Jika kamu Menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui". Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dalam Qs Al Maidah:52
فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ
52. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.
Mudah mudahan yang sedikit ini bisa merubah bangsa ini lebih baik dan mempunyai kedaulatan yang akan di akui oleh bangsa-bangsa lain
Rabu, April 15, 2009
Kenapa Orang Malaysia Membenci Orang Indonesia?
Tentunya tidak semua orang malaysia benci kepada orang indonesia. Namun sudah menjadi rahasia umum bahwa orang Indonesia di sana, khususnya TKI dipandang rendah. TKI/TKW dinamakan dengan orang “indon”, yang istilah indon ini menurut kabar yang beredar berkonotasi rendah, mungkin dapat disamakan dengan istilah “negro” di jaman perbudakan amerika dahulu kala.
Dugaan saya, mereka memandang rendah orang Indonesia karena negara Indonesia miskin melarat dan korup, yang memaksa sebagian tenaga kerjanya mengais-ngais ringgit di tanah melayu, sarawak dan sabah. Jadi dipandang remeh dan hina.
Dalam keseharian nampaknya fenomena diatas tidak jauh beda, terutama perilaku Polis Diraja Malaysia dan pasukan RELAWAN (RELA) Malaysia. Laporan dari Gatra edisi edisi bulan lalu 12 September 2007 “Laku Lancung Negeri Serumpun” pada tulisan berjudul “Luka Akibat Razia Polisi Diraja” halaman 22 menyebutkan sbb:
* Maklum belakangan razia terhadap Warga Negara Indonesia (WNI) menjadi pemandangan rutin di negeri jiran tersebut
* Hampir saban akhir pekan, polisi malaysia melakukan razia
* Para TKI atau pelajar menjadi sasaran, khilaf membawa paspor dipastikan masuk bui berhari-hari
* Majikan Malaysia yang memegang paspor TKI/TKW kadang malas mengurus tki yang tertangkap
* Polisi malaysia sering bersikap pongah
* Untuk memudahkan razia, misalnya, para anggota polisi malaysia yang dibantu RELA — organisasi relawan yang bertugas menangkap TKI — kerap merazia bus dengan berteriak lantang menyebut WNI dengan sebutan “indon”. “indon… indon… turun!”
* Jika ada razia, TKI dikumpulkan dan disuruh berjongkok di tepi jalan.
* Berani berdiri di depan tuan-tuan polisi itu, tendangan dan pukulan langsung menyambar.
* Di mata polisi malaysia, mereka seperti budak-budak yang tak punya hak hukum.
* TKI/TKW sembari dipelototi, dicemooh, dibentak, dan dijadikan tontonan orang yang lalu lalang.
* Banyak TKI yang rela gaji dipotong untuk bayar polisi malaysia ini.
* Buat yang masuk bui, perlakuan tak manusiawi, penghinaan, dan penyiksaan sering terjadi di ruang-ruang tahanan polisi.
* Dipukul, dimaki dengan kata-kata kotor dan dipalak, dirampas uang dalam dompet adalah hal biasa buat TKI.
Puncaknya adalah ketika polisi malaysia ini bertemu dengan Donald Pieter Luther Kolopita, mereka pikir donald yang wasit karate ini paling juga indon yang cuma TKI yang bakal ketakutan dan bisa diperas. kalau tidak salah donald bebek ini sempat melawan hingga empat polisi kewalahan. namun setelah polisi ini memberitahu donald bahwa mereka polisi, donald berhenti melawan. namun kantor polisi, kembali donald yang tidak berdaya digebukin rame-rame satu lawan empat! akibatnya Donald mengalami luka memar, lebam seluruh badan, gegar otak ringan, perdarahan di kemaluan dan kedua bola mata.
Baca berita Antara: Donald: Saya Dipukul Polisi Malaysia Meski Tangan Diborgol
Perdana Menterinya Abdullah Ahmad Badawi kabarnya minta maaf kepada presiden SBY dengan cara tidak resmi melalui telepon. Namun Pak Amien Rais menilai cara Badawi minta maaf menyimpan kecongkakan. Jauh dari harapan. Seharusnya disampaikan secara tertulis dan dinyatakan terbuka dalam konferensi pers. Amien membuat ilustrasi setengah ledekan. “Dia kan cuma malam-malam ambil telepon kemudian bisik-bisik:’Ya Pak SBY, kita minta maaf deh’.Tahu enggak komentar SBY mengenai kasus ini “ya kita tidak bisa memaksa malaysia minta maaf secara resmi.
Well, Bang Mandor baru saja menemukan berita mengenaskan. Belum lama ini seorang pembantu indonesia diperkosa 12 orang malaysia (termasuk 1 orang polisi (ada yang bilang anggota RELA) dan 1 orang pelajar). orang malaysia ini menyamar sebagai polisi Diraja yang menangkap pembantu berusia 22 tahun ini. Kabarnya sudah biasa malaysia ini menyamar sebagai polisi buat menangkapi dan memeras para TKI/TKW di sana.
Parlemen Malaysia Bahas Kata "Indon"
Kuala Lumpur (ANTARA News) - Panggilan "Indon" bagi WNI di Malaysia mencuat di Parlemen Malaysia, Selasa malam (23/10), ketika sedang membahas anggaran kegiatan parlemen negara jiran ini.
Anggota parlemen Sri Aman, Jimmy Donald, mencuatkan isu ini karena Indonesia merasa terhina dan dipermalukan dengan panggilan Indon, padahal panggilan itu tidak ada maksud dan prasangka apa pun.
"Rakyat Malaysia tidak berniat merendahkan martabat dengan panggilan seperti itu," katanya sebagai dikutip Berita Harian, Rabu.
"Rakyat Malaysia tidak prejudis (berprasangka, buruk red) terhadap warga Indonesia," kata Jimmy.
"Saya diinformasikan bahwa rakyat Indonesia, termasuk pemimpin dan menterinya sangat sensitif dan tidak suka dipanggil Indon," tambah dia.
"Ada tidak usulan anggaran untuk memberi pengertian supaya mereka (Indonesia) menyadari kita bukan prejudis dan merendah-rendahkan mereka?" katanya.
Dr Rahman Ismail, anggota parlemen dari Barisan Nasional untuk wilayah Gombak, mengatakan perlu adanya anggaran untuk menjelaskan hal itu kepada rakyat Indonesia terkait panggilan Indon.
Dr Rahman turut mendesak Kerajaan Malaysia untuk segera bertindak membendung prejudis rakyat Indonesia terhadap Malaysia yang dianggap sebagai sombong.
Tuduh media RI
Rahman menuduh media massa di Indonesia sering melakukan provokasi terhadap rakyatnya dan menuduh Malaysia tidak akan maju atau tidak bisa memiliki lapangan terbang KLIA, Sepang, jika tidak ada pekerja Indonesia.
"Malaysia sering dikecam dan diputarbelitkan media di Indonesia dengan isu remeh dan kecil. Jika perkembangan ini tidak dipantau, ini akan mewujudkan kebencian di kalangan rakyat Indonesia," katanya. Bagaimanapun, hubungan kedua negara berjiran itu masih baik.
Sehubungan itu, Dr Rahman mengusulkan supaya Parlemen Malaysia turut berusaha memperkukuhkan hubungan dua negara ini dengan lebih sering mengadakan pertemuan dengan anggota parlemen Indonesia.
Indon adalah sebutan untuk Indonesia, sama seperti Brit kepada Britania Raya. Perkataan ini digunakan secara luas di Malaysia dan Singapura
Pada tahun 2006, pemerintah dan rakyat Indonesia menentang penggunaan kata "Indon" yang dianggap menghina.
Sehubung dengan itu, pihak Pemerintah Indonesia melalui Sekretaris I Penerangan & Humas KBRI Eka A. Suripto menjelaskan bahwa pihak Duta Indonesia sudah menyampaikan protes secara resmi kepada duta Malaysia di Indonesia pada 13 Mei 2007. Pemerintah Malaysia kemudian mengambil tindakan dengan mengeluarkan larangan penggunaan istilah ini secara resmi oleh Kementerian Penerangan Malaysia, pada 24 Mei 2007.
i want to gratitude to http://bangsabodoh.wordpress.com/2007/10/05/kenapa-orang-orang-malingsia-malyasia-membenci-orang-indon-indonesia/, http://www.antara.co.id/arc/2007/10/24/parlemen-malaysia-bahas-kata-indon/, http://id.wikipedia.org/wiki/Indon.
i want apology for all my friends in malaysia if my writing overhard to reading
Sabtu, Maret 28, 2009
Pekanbaru Kota ku yang tercinta

Kota pekanbaru adalah ibukota provinsi Riau, dikota inilah banyak ragam orang dari kota lain berkumpul, karena kota Pekanbaru pusat perdagangan dan belum menjadi kota bisnis masih banyak yang harus dicapai pekanbaru untuk mendapat gelar tersebut.
Kota ini sungguh unik karena visi Riau 2020 untuk menjadikan pusat kebudayaan melayu dan menjadi pusat perdagangan, keunikannya hampir selurh sektor dikuasai bukan dari orang melayu, malah para kaum pendatang baik dari luar daerah maupun ethis tiongha. Kemanakah semua orang melayu sehingga harus kaum pendatang yang menguasai seluruh sektor perdagangan, monopoli orang pendatang jelas tampak pada perekonomian dipekanbaru.
Bila ada masalah di provinsi tetangga pastilah harga-harga barang pokok melonjak tinggi, karena jalur transportasi putus atau permasalahan yang membuat pengiriman barang pokok. Monopoli perdangan dibagi dalam dua sektor yaitu sektor menegah keatas dan menengah kebawah semuanya hampir tidak ada orang melayu yang menguasainya, sektor menengah keatas lebih banyak di kuasai etnis Tiongha dan sektor menegah kebawah banyak dikuasai oleh kaum pendatang.
Pekanbaru memang banyak berbenah sejak Drs. Herman Abdullah menjadi Walikota sudah dua kali mendapat adipura, tapi masih banyak juga sampah berserakan apakah hanya jalan sudirman saja yang harus bersih dari sampah dan jalan-jalan lainnya tidak. Walapun dinas Kimpraswil sudah membersihkan seluruh gorong-gorong dan sampah tetap saja sampah berserakan, faktor manusia atau memang sudah jadi adat istiadat pekanbaru.
Bukan hanya sampah masih banyak kalau mau dikatakan permasalahan yang harus diselesaikan oleh pekanbaru. Transportasi semrawut, listrik dengan alasan klasik, kartu penduduk, dan sebagainya. Hilang sudah dana PEMKO Pekanbaru untuk membangun terminal Bandar Raya, masih banyak juga bus-bus yang mengambil penumpang di luar terminal, kalau lah usul ini bisa diterima alhamdulliah permasalahan ini bisa diatasi dengan dua cara yaitu: cara halus dan cara kasar.
Cara kasar dengan menyontoh PEMKO Jakarta dengan menyegel kendaraan yang beroperasi diluar terminal, pencabutan izin trayek dan pencabutan SIM pengemudi. Cara halus dengan melakukan sosialosi pada pengemudi dan pemilik kendaraan, itulah Pekanbaru monopoli orang luar lebih berkuasa daripada orang tempatan. Peraturan dibuat unutk dilanggar bukan untuk diikuti, memang dasar manusianya sudah tertup telinga dan hatinya sehingga tidak tahu lagi benar dan salah. Semuanya sesuai dengan kehendak dirinya.
Listrik, air bersih dan entah apalagi yang berlaku di Pekanbaru ini, bagai dua sisi mata uang dimana prestasi mencolok permasalahan yang muncul, keunikan yang membuat Pekanbaru banyak berbenah dan bersolek hanya untuk satu kata “persaingan” dengan daerah lain yang lebih dari segala kelebihan.
Maju terus kota tercinta jangan pernah menyerah hanya karena ketinggalan dari yang lain
Minggu, Februari 08, 2009
Mudah-Mudahan Terwujud
impian adalah kata yang sulit untuk di wujudkan, apabila kita memimpikan sesuatu bisa dikatakan cuma 20 % yang terwujud dan terlaksana.
impianku tidak lah sulit untuk dikatakan tapi sulit dilaksanakan, selain menjadi orang yang berguna bagi bangsa ini satu impianku yang akan ku wujudkan dalam dua tahun kedepan (insya allah). Impian itu adalah future my study in malay, apakah akan terwujud lillahi ta'alaa kalau usahku tidak dubarengi dengan do'a.
mungkin impian inilah salah satu jembatanku untuk mewujudkan mimpi-mimoi yang lain, ya allah wujudkanlah atpi apakah allah ridho dengan do'aku ini hanya allah yang tahu (only allah will now). Pada kawan-kawan sekalian yang membaca ini aku cuma minta do'anya
Jumat, Februari 06, 2009
THANK’S MALAY
Bisa jadi judul diatas akan mempertanyakan kewarnegaraan saya, kenapa harus berterimakasih pada
Internet dijaman sekarang sudah jadi kegiatan wajib, seperti dalam sebait lagu saykoji “kalau belum ONLINE paling anti” ,saya pun harus mengakui bahwa internet sudah jadi kegiatan wajib setiap hari, baik chating atahu pun mencari berita di dunia maya. Sampai sayapun harus meminta kepada orang tua untuk membelikan sebuah laptop untuk menjelajahi dunia maya ini ( thank you God have given fortune on my father), dunia maya bagai dua sisi mata uang walaupun sanagt dibutuhkan tetapi juga sangat dibenci.
Kembali masalah Malaysia, sejak dibatasi memang susah untuk melihat berita diinternet sebuah situs yang menayangkan stasiun TV di Indonesia menjadi lambat dan susah diakses malah diblok server. Susah memang tapi bagaimanapun berita harus didapatkan, apalagi saya harus mengetahui dunia ini, pekembangan dunia tentang Gaza yang katanya Israel mulai mau di ajak damai, tapi nyerang juga.
Tentang masalah perkembangan Krisis Global, disini lah fungsi berita untuk menambah pengetahuan saya tentang dunia. Walapun diblok server saya tidak kehilangan akal untuk mendapatkan berita tentang masalah dunia.
Negara jiran membantu saya, sejak menjadi anggota di TV3 Malaysia ( www.tv3.com.my ) yang mereka katakan ahli (oh God I don’t smart like that) terbukalah akses saya kedunia. Dimulailah pengetahuan saya tentang Gaza walaupun berita terlambat sehari, bagi saya tak masalah yang penting bagaimana tahu dunia ini.
Mungkin lucu juga saya lebih tahu banjir di Kelantan daripada banjir di Rumbai yang jarangnya hanya setengah jam perjalanan dari rumah saya, saya tahu jargon politik anggota dewan di Malaysia dari pada jargon di Riau walaupun di sepanjang jalan menuju tempat kerja terpampang wajah mereka yang mengobral janji akan merubah Riau ini. Malah bisa jadi saya lebih tahu Dato’ Abdullah Badawi menggandi para mentrinya daripada Pak SBY mereshufle Kabinetnya. Itulah internet mengantar dunia di depan pintu kita.
Finaly i want to thank very much to TV9 Malay ( www.tv9.com.my ), all of you bring world to my front door. I hope can better day by day, give the best news to all people Malay and international people. Alhamdulillah.
Bagi teman-teman yang membaca tulisan ini mohon cendolnya maksudnya comment